Monday, April 4, 2011 - 1 komentar

Sifat-sifat Fisik Mineral

Sifat – sifat fisik suatu mineral sangat diperlukan di dalam pengenalan mineral secara megaskopis, yaitu mengenal dan mendeterminasi mineral tanpa pertolongan mikroskop. Dengan cara ini seseorang dapat mendeterminasi sekitar ratusan mineral. Sifat – sifat suatu mineral tersebut antara lain : warna, kilap, kekerasan, cerat, belahan, pecahan, bentuk, berat jenis, sifat dalam, kemagnetan, dan sifat – sifat lain.

  • Warna ( Colour )

Warna adalah warna yang kita tangkap dengan mata apabila mineral terkena cahaya, atau spektrum cahaya yang dipantulkan oleh mineral.
Warna mineral dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
1. Warna idiokhromatik : apabila warna mineral selalu tetap, pada umumnya dijumpai pada mineral - mineral yang tidak dapat ditembus cahaya (opaque) atau berkilap logam. Contoh : magnetite, galena, pyrolusite, dan lain – lain.
2. Warna allokhromatik : apabila warna mineral tidak tetap tergantung pada material pengotornya, pada umumnya dijumpai pada mineral yang tidak tembus cahaya ( trasparant/translucent ) atau berkilap non logam. Contoh: kuarsa, gypsum, kalsit, dan lain-lain.
Beberapa mineral terkadang dinamakan menurut warnanya, seperti :
 Albit ( albus = putih )
 Klorite ( hijau )
 Rhodopsite ( merah )
 Melanite ( hitam )
 Erythrite ( merah darah )


  • Kilap ( luster )

Kilap adalah kesan mineral yang akan ditunjukkan oleh pantulan cahaya yang dikenakan padanya, atau intensitas cahaya yang dipantulkan oleh permukaan kristal.
Kilap mineral dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
a. Kilap logam ( metallic luster )
Bila terkena cahaya, mineral akan memberikan kesan seperti logam. Contoh : galena ( abu – abu logam ), pyrite ( kuning emas ), graphite, pyrolusite, chalcopyrite, arsenopyrite ( putih timah ), dan lain – lain.
b. Kilap non logam ( non metallic luster )
Bila terkena cahaya, mineral tidak memberikan kesan seperti logam. Kilap non logam dapat dibedakan menjadi 7 macam, yaitu :
1. Kilap kaca ( vitreous luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti kaca. Contoh : kuarsa, kalsit.
2. Kilap intan ( adamantin luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan cemerlang seperti intan. Contoh : intan
3. Kilap sutera ( silky luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan sperti sutera dan pada umumnya terdapat pada mineral yang berserat. Contoh : actinolite, gypsum.
4. Kilap damar ( resinous luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti getah damar. Contoh : sphalerite.
5. Kilap mutiara ( pearly luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti mutiara atau bagian dalam dari kulit kerang. Contoh : talk, muskovit, dolomite.
6. Kilap lemak ( greasy luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti lemak atau sabun. Contoh : talk, serpentine.
7. Kilap tanah ( earthy luster )
Bila terkena cahaya, mineral memberikan kesan seperti tanah lempung.Contoh : kaolin, limonite, bauxite.
Kilap mineral penting untuk diketahui, karena sifat fisik ini dipakaii dalam menentukan mineral yang diselidiki secara megaskopis. Untuk itu perlu dibiasakan membedakan kilap mineral satu dengan yang lain, walaupun kadang – kadang akan dijumpai kesulitan, karena batas kilap satu dengan yang lain tidak begitu tegas.


  • Kekerasan ( hardness )

Kekerasan adalah ketahanan mineral terhadap suatu goresan. Kekerasan secara relatif dapat ditentukan dengan menggunakan SKALA MOHS yang dimula dari skala 1 untuk mineral terlunak sampai skala 10 untuk mineral terkeras.
Skala MOHS Mineral Skala MOHS Mineral
1 Talk 6 Feldspar
2 Gypsum 7 Quartz
3 Calcite 8 Topaz
4 Fluorite 9 Corundum
5 Apatite 10 Diamond

Dalam menggunakan skala MOHS harus dimulai dari mineral yang terkeras dan digoreskan pada bagian yang rata pada mineral yang akan diselidiki. Sebagai pembanding juga dapat digunakan benda lain, seperti di bawah ini :
No Benda Kekerasan No Benda Kekerasan
1 Kuku jari 2,5 5 Pisau baja 5,5
2 Jarum 3,0 6 Kaca 5,5 – 6,0
3 Koin tembaga 3,5 7 Kikir baja 6,0 – 7,0
4 Paku besi 4,5 8 Amplas(kasar) 8,0 – 9,0
Pengujian akan dihentikan apabila mineral yang kita selidiki tidak tergores oleh benda yang paling keras. Jadi kekerasan mineral tersebut sama dengan kekerasan benda pembanding yang digunakan untuk mengujinya.


  • Cerat ( streak )

Cerat atau warna goresan adalah warna mineral dalam bentuk serbuk atau goresan. Cerat dapat sama atau berbeda dengan warna mineral. Pada umumnya warna cerat suatu mineral adalah tetap. Cerat diperoleh dengan menggoreskan mineral pada bagian belakang dari keping porselen ( bukan bagian yang licin ). Bila mineralnya lebih keras dari porselen, maka dapat digoreskan pada skala kekerasan yang lebih keras dari mineral tersebut.
Contoh : - Belerang berwarna kuning cerah bercerat putih kekuningan
- Pirite berwarna kuning emas akan bercerat hitam kecoklatan.
Dengan demikian warna cerat adalah khas bagi senyawa atau mineral tertentu.


  • Belahan ( cleavage )

Belahan adalah kenampakan mineral untuk membelah melalui bidang belahan yang rata, halus, dan licin serta pada umumnya selalu berpasangan.
Belahan dapat dibedakan menjadi :
a) Belahan sempurna ( perfect cleavage )
Ada bidang belahan dan mudah dibelah. Contoh : muskovit, biotit
b) Belahan baik ( good cleavage )
Ada bidang belahan tetapi tidak mudah dibelah. Contoh: kalsit, ortoklas, gypsum.
c) Belahan tidak jelas ( indistinct cleavage )
Bidang belahan seperti garis atau kenampakan striasi pada bidang belahannya. Contoh : plagioklas.
d) Belahan tidak menentu
Tidak ada bidang belahan. Contoh : kuarsa, opal, kalsedon.
Apabila ditinjau dari arah belahannya, maka belahan dibedakan menjadi :
a) Belahan satu arah. Contoh : muskovit
b) Belahan dua arah. Contoh : feldspar
c) Belahan tiga arah. Contoh : halite dan kalsit.


  • Pecahan ( fracture )

Pecahan adalah kenampakan mineral untuk pecah melalui bidang yang tidak rata, tidak halus, tidak licin, dan tidak teratur.
Pecahan mineral dapat dibedakan menjadi 5, yaitu :
a) Pecahan konkoidal ( choncoidal fracture ) : memperlihatkan gelombang yang melengkung di permukaan, seperti kenampakan bagian luar kulit kerang atau botol yang dipecah. Contoh : kuarsa.
b) Pecahan berserat (Splintery/Fibrous ) : menunjukkan gejala seperti serat atau daging. Contoh : serpentine, asbes, augit.
c) Pecahan tidak rata ( uneven fracture ) : menunjukkan kenampakan permukaan yang tidak teratur dan kasar. Contoh : garnet.
d) Pecahan rata ( even fracture ) : permukaannya rata dan cukup halus. Contoh : mineral lempung ( bentonit dan kaolin )
e) Pecahan runcing ( hackly fracture ) : permukaannya tidak teratur, kasar, dan ujungnya runcing – runcing. Contoh : mineral kelompok logam native element, seperti gold, copper.


  •  Bentuk

Bentuk mineral ada 2 macam, yaitu :
I. Bentuk kristalin : apabila mineral mempunyai bidang kristal yang ideal dan biasanya terdapat pada mineral yang mempunyai bidang belahan. Bentuk mineral kristalin dapat dibedakan lagi menjadi 3, yaitu :
a. Bangun Kubus. Contoh : Galena, Pirit
b. Bangun Prismatik. Contoh : Amphibol, Piroksen
c. Bangun Dodecahedron. Contoh : Garnet
II. Bentuk amorf : apabila mineral tidak mempunyai batas – batas kristal yang jelas. Contoh : opal (SiO2), dolomite (MgCaCO3 ).


  • Berat Jenis ( specific gravity )

Berat jenis adalah perbandingan antara berat mineral di udara terhadap volumenya di dalam air. Yang dimaksud dengan volumenya di dalam air adalah berat volume air yang sama dengan volume mineral tersebut. Berat jenis mineral adalah tetap apabila susunannya tetap.
Penentuan berat jenis mineral dapat digunakan alat Timbangan Jolly, piknometer, atau Neraca Analitik. Hasil tersebut dapat tepat apabila mineralnya dalam keadaan murni, homogen, padat, dan tidak berongga serta dalam keadaan segar. Perhitungan berat jenis memakan waktu yang lama dan juga memerlukan peralatan yang khusus.


  • Sifat Dalam ( tenacity )

Sifat dalam adalah reaksi mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti penekanan, pemotongan, pembengkokan, pematahan, pemukulan, maupun penghancuran.
Sifat dalam dapat dibagi menjadi 6 macam, yaitu :
1) Rapuh (brittle)
Bila digores menjadi tepung, tetapi bubuknya tidak meloncat ke segala arah dan mudah hancur. Contoh : kuarsa, kalsit, feldspar.
2) Dapat diiris (sectile)
Dapat diiris dengan pisau dan memberikan kenampakan yang halus dan rata pada bekas irisannya. Contoh : gypsum
3) Dapat dipintal (ductile)
Bila mineral dapat dipintal seperti kapas. Contoh : asbes
4) Dapat ditempa (malleable)
Bila mineral dipukul dapat menjadi lebih tipis dan melebar. Contoh : emas dan tembaga. Contoh : gold, copper
5) Lentur (elastic)
Bila dibengkokkan dapat kembali seperti semula kalau dilepaskan lagi. Contoh : mika
6) Fleksibel
Bila dibengkokkan dapat tetapi tidak dapat kembali seperti semula kalau dilepaskan lagi. Contoh : copper


  •  Kemagnetan

Kemagnetan adalah sifat mineral terhadap gaya tarik magnet. Kemagnetan dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
1) Feromagnetik : tertarik kuat oleh magnet, seperti magnetite, pyrrhotite
2) Paramagnetik : tertarik agak kuat oleh magnet, seperti pyrite.
3) Diamagnetik : tidak tertarik oleh magnet, seperti kuarsa, gypsum, dll.
Untuk melihat apakah mineral mempunya sifat magnetic atau tidak, kita gantungkan pada seutas benang sebuah magnet dan dengan sedikit demi sedikit mineral kita dekatkan padanya. Bila benang bergerak mendekatinya, berarti mineral tersebut magnetic. Kuat tidaknya bisa kita lihat dari besar kecilnya sudut yang dibuat benang terhadap garis vertical.
Pada umumnya mineral – mineral yang mengandung unsur Fe dan Ni dalam rumus kimianya akan bersifat magnetic.


  • Sifat – sifat lain

Adalah sifat – sifat khas yang dimiliki oleh mineral, di luar sifat – sifat fisik yang telah diuraikan di atas.
Contohnya :
 Belerang : baunya menyengat seperti bau korek api
 Halite : rasanya asin seperti garam
 Grafit : membekas bila digoreskan di atas kertas
Disamping sifat – sifat fisik mineral yang telah diuraikan di atas, sifat fisik yang lain misalnya kelistrikan dan daya lebur.
Sifat – sifat fisik mineral seperti warna, kilap, dan cerat merupakan sifat – sifat fisik mineral yang ditentukan oleh penyinaran atau cahaya. Sedangkan sifat – sifat fisik mineral seperti kekerasan, belahan, pecahan, bentuk/struktur, berat jenis, sifat dalam, kelistrikan, dan daya lebur merupakan sifat – sifat fisik yang berhubungan erat dengan ikatan – ikatan molekul atau atom di dalam mineral.

1 komentar:

Tia September 25, 2011 at 4:34 AM

thankyou you just saved me, now i can complete my college chore!

Post a Comment